Mengulas Kembali Alita: The Battle Angel, Cyborg Cantik dan Menawan

Posted on

 

Melihat anak-anak latihan taekwondo di Sobokarti dekat Pasar Dargo Semarang membuat Mimin tiba-tiba teringat sebuah film menarik yang tayang bulan Februari lalu. Sebuah film live action yang diadaptasi dari anime berjudul sama yakni Alita: The Battle Angel karya Yukito Kishiro. Memang bentuk bela diri yang digunakan tidak sama, tetapi aksi yang anak-anak itu lakukan membuat Mimin terasa bernostalgia.

 

SINOPSIS :

 

Film ini menceritakan tentang seorang cyborg amnesia yang dibuang di tempat pembuangan sampah untuk robot bekas, kemudian diselamatkan oleh seorang dokter bernama Dr. Dyson Ido.

Cyborg yang hanya ditemukan dalam bentuk kepala dan jantungnya saja itu kemudian dibuatkan tubuh oleh Dr.Ido dan diberi nama Alita, seperti nama anak mendiang dokter tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa gadis cyborg itu kemudian dianggap anak.

 Selama di Iron City, Alita diajak berkeliling dan kemudian bertemu dengan Hugo yang nantinya akan menjadi pacarnya. Dengan Hugo, ia diperkenalkan dengan permainan Motorball jalanan. Permainan inilah yang nantinya akan membuat Alita menduduki puncak demi menguak masa lalunya di Zalem.

 

 

Film yang disutradarai oleh Robert Rodriguez ini berhasil membuat penonton terpana. Apalagi mengingat ia satu tim dengan James Cameron, sebagai penulis naskah dan produser. Masih ingat, kan, kalian dengan film legend Avatar yang disutradarai Cameron? Dan kerja sama mereka membuat Alita: The Battle Angel menjadi film yang sangat luar biasa.

 

Dimulai dari penggambaran latarnya yakni Zalem dan Iron City. keduanya benar-benar menggambarkan masyarakat dengan dua kelas yang berbeda. Yakni kelas atas dengan kelas bawah. Hal ini juga digambarkan bagaimana Zalem dengan mudahnya membuang sampah seenaknya di Iron City. Sedangkan warga Iron City sendiri seperti pemulung yang mengolah kembali sampah-sampah tersebut, seperti yang Dr. Ido lakukan.

 

 

Dalam permainan adegannya, Rodriguez berhasil memanfaat cutting on action dengan baik. Terutama ketika perkelahian di Bar, Alita yang hanya menggunakan tubuh cyborg biasa dapat dengan mudah beraksi luwes. Si gadis cyborg dengan mudah menciptakan jalan agar dapat melumpuhkan lawannya dengan teknik bela diri Punzer Kunts. Satu-satunya hal yang dia ingat ketika terbangun untuk pertama kalinya.

 

Akting yang dilakukan Rosa Salazar sendiri juga terasa menghayati. Ia dengan lihai menirukan gerak-gerik cyborg dalam bertindak. Yang paling membuat Mimin terpesona ketika Salazar melakukan adegan tengah memakan coklat pemberian dari Hugo. Terasa seperti pertama kalinya bagi dia untuk memakan makanan tersebut. Terlihat dari raut wajahnya yang sedikit mengernyit takut-takut tapi kemudian menjadi sumringah ketika sudah menelan si cokelat.

 

 

Dan jangan lupakan akting Christoph Waltz sebagai Dr. Ido. Ia benar-benar dapat membawakan peran sebagai seorang ayah yang melindungi anak perempuannya. Dengan berusaha sekuat tenaga menjaga rahasia identitas Alita.

 

Sebagai orang yang belum pernah menonton versi anime-nya, Mimin tetap merasa terpana terhadap film live action garapan Rodriguez ini. Sang sutradara tetap berhasil membawakan nuansa di era abad ke 26 pasca-apokaliptik. Biasanya kan orang-orang bakal pesimis duluan nih dengan Live Action adaptasi anime, menurut Mimin untuk yang ini tidak demikian. Kenapa? Karena hasilnya yang benar-benar memuaskan.

 

Nah, denger-denger nih bakal ada lanjutan film ke 2 dan ke 3 nya. Well karena ini trilogi sih tapi belum ada kabar nih bakal dirilis kapan. Yah, Mimin sih berdoa aja biar rilisnya cepet. Hehe… Maklum saja, Mimin udah mulai kecanduan aksi dari neng Alita. Apalagi pengen banget tahu kebenaran siapa sih penguasa Zalem yang masih dirahasiakan itu.

 

Sekian dari Mimin, sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya! Salam Matahari!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *